"Seandainya aku tak sembahyang mungkin sudah lama aku gila" kata Mahatma Ghandi.
Sebuah ungkapan jujur dari seorang revolusioner, pemikir serta intelektualitas, tentu mengandung filosofi yang sangat berharga.
Hidup di zaman yang serba chaos (biaya) seperti sekarang selain kita harus menguasai tehnik berperang juga harus menguasai tehnik bertahan hidup dan menyembuhkan diri sendiri. Seperti dalam komik - komik tentang dunia persilatan, kita harus memiliki obat penawar luka karena petualangan kita sangat beresiko. Bahkan lebih berbahaya dan lebih liar dari petualangan Si buta dari Goa Hantu,Wiro Sableng dan Pendekar Kapak Merah. Kemungkinan kita terbunuh secara mental dan spiritual sangat terbuka lebar.
Ramainya warung kopi,caffe dan diskotic adalah indikasi makin banyaknya orang terluka oleh pertempuran yang tak ada habis - habisnya dalam hidup.
Tergantung dari stadium luka dan kesepian, diklinik manakah mereka memilih untuk menyembuhkan diri. Mereka yang menderita luka atau kesepian awal mungkin hanya melakukan perawatan di warung kopi atau caffe.
Untuk stadium yang lebih gawat ada yang dirujuk hingga ke diskotic dengan intensitas perawatan yang tinggi pula. Bagi yang menderita stadium amat gawat langsung di rujuk ke RSJ atau sampai ke kamar mayat.
Kesibukan dan keruwetan pikiran membawa dampak pada keausan spritual. Indikasi dari gangguan tersebut biasanya kita merasakan sumpek tanpa sebab, kekhawatiran berlebih atau bahkan phobia - phobia pada hal - hal yang remeh.
Semakin tinggi stadium keausan spritual makin gawat efek kebingungannya. Akibatnya banyak orang sampai memilih jalan pintas dengan menggunakan obat penenang entah berupa hura - hura. tanpa tahu bagaimana cara mengakhirinya.
Ada pula yang sengaja meninggalkan medan perang sama sekali dengan bergabung menjadi anggota back packer, punker atau club - club barisan sakit hati kepada Tuhan.
Barisan ini melawan rasa sakit dengan habis-habisan menggunakan jurus mabuk - mabukan sampai tak sadar akan dirinya sendiri semakin sesat,semakinn pekat seperti nasib tragis para penganut hedonisme tulen.
Kita mafhum kesenangan memang bisa dicari, diupayakan serta bila perlu dirancang. Tapi ketenangan, karena ia bersifat abstrak tidak bisa di setting. Sebagaiman kerisauan ketenangan bisa menelusup begitu saja dalam hati kita. Tidak ada buku " how to " bahkan tidak ada tulisan siapapun yang bisa mengajari kita untuk mendapatkannya. Tidak ada latihan-latihan atau lelaku tertentu yang bisa kita lakukan selain ajian Rawa rontek kita ini.
Yoga,meditasi, relaksasi atau thai chi itu bukanlah menenangkan tapi hanya menyelaraskan. Karena semuanya itu tak kan sanggup menyentuh yang ada di dalam raga kasar ini. Apalagi qiyamullail di diskotik malah akan menyebabkan kebingungan yang lebih akut lagi.
Karena pertempuran akan terus berlangsung selama kita masih bernafas dan kita harus bersikap kesatria, maka jalan satu-satunya kita harus membekali diri dengan ajian Rawarontek.
Sebuah ajian sakti yang memungkinkan kita akan terus bangkit dari kematian yang berkali - kali.
- Pertama kita harus mengenakan pakaian yang suci sebelum memulai lelaku. Suci disini bukan hanya bersih tapi juga harus murni selain pakaian bersih secara lahiriah juga harus bersih secara subtansi .Bersih secara muasal dan jati dirinya dari mana ia berasal serta dengan cara apa ia didapat.
- Setelah pakaian yang kita kenakan suci baru kita sucikan tubuh dengan dua perangkat bersuci sekaligus, suci dari najis dan suci dari hadast. Kita tahu pada dasarnya kita suci secara muasal tapi setelah beberapa hal kotor menimpa kita jadi menanggung najis titipan. Hadast berarti baru suatu najis baru yang menempel pada kita yang pada dasarnya suci, seperti kita sentuh lawan jenis yang bukan muhrim. Bersuci dari hadast kita dituntut membersihkan bagian dalam diri kita secara simbolis. Renungkan bagian - bagian yang kita basuh dalam penyucian ini, yang dimulai dengan wajah,kedua tangan,kepala,kedua telinga lalu kedua kaki. Kenapa yang pertama harus wajah ? karena segenap kekotoran bermula dari bagian-bagian tubuh kita disana. Mata bisa menjadi pintu segenap rencana busuk dan mulut adalah bagian organ tubuh dengan efek pengrusakan tingkat tinggi.
- Setelah semuanya kita sucikan lalu kita berdiri dengan segenap bagian diri kita. Segenap anggota tubuh,akal dan kesadaran serta bagian inti dari kedirian kita (hati). Segenap laju energi keakuan serta urusan tak penting kita buang ketitik paling acuh. Bahkan tak boleh ada setitik pun dari keakuan dalam kedirian. Kita musnah,moksa,lenyap, sirna bahkan abu pembakaran kita pun tidak boleh tertinggal di hadapan kebesaran Tuhan.
- Lalu kita satukan sari pati pembakaran diri dengan Tuhan. Dalam tahap ini kita sampai pada inti lelaku ajian Rawa rontek. Ajian sakti yang bisa membuat kita kebal dari segenap kematian yang belum waktunya. Kita akan sesakti patih Batik Mandrim atau bahkan Prabu Angling Darma. Hidup kembali meski tertikam seribu anak panah problema,tertusuk pedang kebingungan tanpa sebab, tertembus tombak ketakutan yang tak jelas asalnya,terjebak ranjau kesunyian serta keterasingan diri.
Semoga kita semua tetap diberi kekuatan dalam menjalani perang puputan hidup ini. Amin..
![]() |
| Leilany Anastia siswi SDIT BIC Kota Pasuruan |








Subhanallah..
BalasHapusArtikel yang luar biasa menjadi obat bagi semuanya. Terima kasih semoga makin sukses selalu.
BalasHapus